Banyak yang ingin membangun startup karena tergiur valuasi dari unicorn startup yang bermunculan di Indonesia.

Kini, banyak “founder” startup yang salah dalam memahami bahwa dengan mencari dana dari investor merupakan kunci pasti startup-nya akan sukses.

Mengenal Bootstrap

Bootstrap yang dimaksud ini bukan bootstrap dalam web development. Melainkan cara mengembangkan startup dengan modal mengandalkan dana pribadi tanpa meminjam uang dari pihak eksternal.

apa aja si tantangan yang akan dihadapi jika melakukan Bootstraping?

Persepsi: co-founder-mu haruslah mempunyai persepsi yang sama, bahwa bootstrapping adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan. Jangan sampai co-founder mu ingin buang buang duit sedangkan kamu ingin mengefisienkan segala pengeluaran startup-mu. 

Konsistensi: Menjaga konsistensi untuk melakukan bootstrapping itu sulit, dalam keadaan minim dana, harus mencari dana sendirian. Sampai akhirnya kelelahan sendiri jika tidak tahan dengan kondisi tersebut.

Waktu: Anda harus membangun startup sambil berhemat dengan pengeluaran dan harus mencari uang untuk menghidupi startup Anda melalui kemampuan yang Anda miliki, tentu waktu disini sangat penting untuk dimanfaatkan dengan baik.

Sumber daya: Co-founder hanya berdua, dan dompet sama-sama lagi tipis, pasti susah si

Tentu saja uang! Ketika bootstrap, uang salah satu jadi korbannya. Gak bisa buat bayar karyawan, ngopi yang biasanya di starbucks malah jadi di Burjo

Keuntungan Bootstrapping untuk Startup

Tenang sobb, di balik perjuangan yang sulit pasti ada hikmah yang bisa kita petik

Belajar lebih banyak hal: karena tidak punya dana banyak, teman-teman jadi harus belajar banyak hal secara otodidak. Semisal, dengan latar belakang teman-teman bukan digital marketing, tetapi teman-teman harus memanfaatkan media sosial maupun mesin pencari sebagai channel pemasaran. Jadi, teman-teman harus belajar social media marketing sendiri, belajar SEO sendiri.

Belajar lebih teliti untuk melihat peluang: lagi-lagi, minim resource, uang, dan waktu membuat teman-teman harus lebih teliti melihat setiap peluang yang bisa dijadikan uang untuk menjalankan startup

Menyingkirkan “founder” yang tidak punya karakter seorang Melalui bootstrapping, teman-teman menjadi bisa melihat mana co-founder teman-teman yang cuma cari funding investor aja, yang mungkin menyalahgunakan uang investor untuk kepentingan yang enggak-enggak

Building a company culture: Yap! dengan bootstrapping, teman-teman bisa membuat sebuah culture yang teman-teman founder inginkan. Bootstrapping bisa menjadi salah satu “alat” seleksi alam bagi founder yang tidak sejalur

Kontrol kepemilikan secara penuh: dengan masuknya investor, keuntungan startup teman-teman harus berbagi dengan investor, setiap keputusan strategis startup jadi harus meminta pertimbangan investor. Namun, jika melakukan bootstrapping.. tentu saja kontrol startup masih tetap di tangan teman-teman.

Cara melakukan Bootstraping

  1. Define your early customer! Teman-teman harus tau banget siapa yang jadi early customer dari temen-temen. Kenapa? dengan begitu, ada biaya edukasi konsumen yang dihilangkan. Tentu saja biaya akuisisi pelanggan akan jauh lebih murah
  2. Maximize free tools! Ketika bootstrapping, kita ga bisa beli tools mahal-mahal. Jadi, maksimalkan setiap free tools yang ada di internet. Semisal, mau riset kata kunci? cobain pakai ubersuggest daripada tools yang berbayar, mau team chat? daripada pakai slack (walau gratis, fiturnya limited) cobain pakai fleep.io, misal mau blast email? daripada pakai provider email marketing berbayar, coba pakai skrip khusus di Google Spreadsheets, dsb!
  3. A/B Testing! Melakukan A/B Testing yang sederhana akan sangat bermanfaat untuk growth, hanya dengan improvement UI/UX saja bisa meningkatkan growth
  4. Ikut kompetisi Startup? Boleh juga kok, untuk menghindari equity dari investor, teman-teman bisa memenangkan berbagai lomba di bidang startup, hadiah yang didapatkan pada dasarnya variatif.


No comments:

Post a Comment